Itusaya.com/Suku Tengger adalah suku yang berasal dari penduduk asli dataran tinggi yang tinggal di sekitar pegunungan Tengger, Bromo, dan Semeru yang terletak di Jawa Timur. Hal inilah yang membuat suku ini sering di panggil wong Brama, orang Bromo, atau wong Tengger.
Suku ini tidak hanya tinggal di lereng pegunungan, namun banyak juga tersebar di beberapa daerah di sekitarnya seperti Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Malang.
Istilah Tengger berasal dari bahasa Jawa yang artinya tegak, diam tanpa bergerak yang apabila dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat, tengger juga bisa berasal dari singkatan tengering budi luhur.
Masyarakat setempat percaya jika nenek moyang Suku Tengger berasal dari Majapahit. Berkaitan dengan masa kerajaan Hindu di Pulau Jawa, di mana pegunungan Tengger diakui sebagai tempat suci yang dihuni abdi spiritual dari Sang Hyang Widi Wasa yang disebut juga sebagai hulun.
Agama dan Keyakinan Suku Tengger
Suku Tengger memeluk ajaran Hindu Dharma yang memiliki tradisi Yadnya Kasada atau upacara Kasada sebutan hari raya bagi masyarakat Tengger yang memeluk ajaran Hindu Dharma.
Yadnya Kasada dilakukan pada pada hari ke-14 bulan Kasada dengan menggelar sesembahan berupa sesaji kepada Sang Hyang Widhi, sebagai manifestasi dari Batara Brahma.
Pelaksanaan Upacara Kasada dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu puja Purkawa, Manggala upacara, Ngulat umat, Tri Sandiya, Muspa, Pembagian Bija, Diksa Widhi, dan penyerahan sesaji di kawah Bromo.
Proses upacara dimulai pada Sadya Kala Puja dan berakhir pada Surya Puja. Masyarakat Tengger beramai-ramai menuju Gunung Bromo untuk mengantarkan sesaji berupa hasil ternak dan pertanian ke Pura Luhur Poten Agung. Selama pelaksanaan, Rama Dukun Pandita akan membaca Japa Mantera, yang isinya mendoakan keselamatan seluruh alam semesta.
Selain Yadnya Kasada, masih ada lagi tradisi dari Suku Tengger. Yakni Entas-entas. Tradisi ini merupakan upacara kematian.
Entas-entas sendiri diartikan gambaran dari meluruhkan atau mengangkat derajat leluhur yang telah meninggal agar mendapatkan tempat yang lebih baik di alam arwah.
Bagi suku Tengger, pelaksanaan upacara Entas-entas secara khusus yaitu untuk menyucikan roh atau atma bagi orang yang sudah meninggal dunia. Atau sebagai upaya untuk memperingati kematian keluarga yang sudah tiada agar arwahnya bisa mendapatkan tempat yang lebih baik.
Ritual adat ini, dilaksanakan pada hari yang ke-1000 atau minimal pada hari ke-44 setelah keluarga meninggal. Istilah Entas-entas berasal dari bahasa Jawa, yaitu entas yang berarti mengangkat.
Di dalam tradisi ini, terdapat beberapa rangkaian urutan di dalamnya, yakni ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, dan bawahan.
Untuk melakukan upacara ini, berbagai keperluan dipersiapkan, di antaranya adalah kain putih, bebek, cepel, cobek, beras, kulak (wadah bambu). Selain itu, juga menyediakan sebuah boneka yang diberi nama Petra, sebagai tempat kembalinya roh atau atma.
Adapun pembuatan boneka itu menggunakan bahan dedaunan dan bunga, kemudian nantinya akan disucikan oleh pemuka adat
Tradisi Sarung Suku Tengger
Salah satu ciri khas yang unik dari Suku Tengger adalah penggunaan sarung, baik pria maupun wanita. Namun, sarung bagi Suku Tengger bukan sekadar kain penutup tubuh dari suhu dingin tetapi memiliki makna dan simbol yang mendalam. Bahkan pemakaian sarung ini telah menjelma menjadi identitas mereka.
Penggunaan sarung ini berlaku untuk semua, baik laki-laki maupun perempuan, tua dan muda. Meski suhu sangat dingin yang kadang mencapai 5 derajat celsius pada malam hari, alasan penggunaan sarung ternyata tidak hanya terbatas pada cuaca dingin.
Penggunaan sarung pada suku Tengger juga memiliki nilai dan makna tersendiri tergantung pada siapa yang memakainya. Untuk laki-laki, sarung merupakan atribut formalitas sehari-hari atau sebagai perlengkapan saat bekerja.
Sementara bagi perempuan, sarung berfungsi untuk menunjukkan status sosial tertentu. Sarung yang mereka pakai mencerminkan posisi mereka dalam bermasyarakat.
Terdapat empat jenis simpul sarung bagi perempuan suku Tengger.
Perempuan Tengger mengikat sarung di pundak kanan
Perempuan Tengger yang mengikat sarung di pundak kanan menunjukkan bahwa dia sudah dewasa dan siap menikah. Melalui penempatan simpul di pundak kanan ini, dipercaya perempuan tersebut akan memiliki kemampuan untuk memilih suami terbaik dengan penuh tanggung jawab.
Perempuan Tengger yang mengikat sarung di dada
Simpul yang terletak di dada mengindikasikan bahwa perempuan Tengger tersebut sudah menikah.
Perempuan Tengger yang mengikat sarung di leher belakang
Simpul di leher belakang menandakan bahwa perempuan tersebut sedang hamil. Ujung sarung yang menjuntai di depan ditujukan untuk melindungi kehamilannya.
Perempuan Tengger yang mengikat sarung di pundak kiri
Perempuan Tengger yang mengikat sarung di pundak kiri menandakan bahwa dia sudah tidak memiliki suami, yang berarti dia telah bercerai atau merupakan seorang janda.
Selain menunjukkan identitas mereka, masyarakat Tengger di Desa Ngadas juga memiliki sejumlah cara menggunakan sarung berdasarkan peruntukannya.
Kakawung
Untuk bekerja, mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua, kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. Cara ini disebut kakawung, yang memungkinkan mereka bebas bergerak saat mengambil air atau pergi ke pasar. Cara bersarung ini tidak boleh digunakan saat bertamu atau melayat.
Sesembong
Untuk pekerjaan yang lebih berat, seperti bekerja di ladang atau tugas lain yang memerlukan tenaga besar, mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. Sarung dililitkan di pinggang lalu diikatkan di dada seperti dodot agar tidak mudah lepas.
Sempetan
Saat bertamu, mereka mengenakan sarung sebagaimana umumnya, yaitu ujung sarung dilipat sampai ke garis pinggang. Cara ini disebut sempetan.
Kekemul
Saat santai dan berjalan-jalan, mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Setelah disarungkan pada tubuh, bagian atas dilipat untuk menutupi kedua tangan, kemudian digantungkan di pundak.
Agar terlihat rapi saat bepergian, mereka menggunakan cara sengkletan, yaitu kain sarung cukup disampirkan di pundak atau digantung menyilang di dada.
Kekodong
Cara lain yang khas, sering dijumpai saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat upacara atau keramaian malam hari adalah kekodong.
Dengan ikatan di bagian belakang kepala, kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh kepala, hanya menyisakan mata yang terlihat.
Sampiran
Anak-anak muda Tengger memiliki cara bersarung tersendiri yang disebut sampiran. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung, kedua lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangan.