Siapa sih yang tidak kenal dengan Bulukumba, salah satu kota yang berada di bagian selatan pulau Sulawesi. Sebuah kota yang identik dengan pantai pasir putih yang juga kerap di juluki Butta Panrita Lopi.

Kini Bulukumba kembali menghadirkan daya tarik baru di pusat kota melalui hadirnya pantai Merpati yang telah bertransformasi menjadi ruang publik modern dan waterfront city yang menjadi pusat keramaian baru bagi warga lokal maupun pelancong.

​Pantai Merpati terletak di jantung kota kini menawarkan lanskap pesisir perkotaan yang bersih dan tertata dengan wajah baru yang lebih modern dan kekinian.

Area pedestrian yang luas serta fasilitas publik yang memadai menjadikannya tempat ideal untuk bersantai di sore hari sambil menikmati semilir angin laut.

Ada tiga daya tarik yang membuat kamu wajib mengunjungi pantai ini.

Spot Matahari Terbenam (Sunset): Letaknya yang menghadap langsung ke arah barat menjadikan kawasan ini sebagai salah satu titik terbaik untuk menikmati panorama senja yang sangat mempesona.

​Surga Kuliner Lokal: Sepanjang area pantai, berdiri deretan sentra kuliner yang menjajakan ragam makanan khas Bugis-Makassar dan hidangan laut segar, memberikan pengalaman wisata kuliner malam yang semarak.

Ruang Interaksi Komunitas: Sebagai ruang publik terbuka, Pantai Merpati rutin menjadi lokasi berkumpulnya berbagai komunitas kreatif, keluarga, dan anak muda untuk menggelar kegiatan seni maupun olahraga ringan.

​Kehadiran pantai ini membuat daya tarik Bulukumba semakin memikat dengan menawarkan perpaduan sempurna antara pesona alam bahari dan dinamika ruang publik perkotaan yang ramah pengunjung.

Picture by Radar Selatan

Itusaya.com/Tebing Apparalang merupakan salah satu destinasi wisata keren yang wajib di kunjungi jika berada di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Letaknya, masih terbilang sepi dan jauh dari pemukiman warga membuat  destinasi wisata yang satu ini di gemari pengunjung.

Penamaan dari destinasi wisata yang satu ini berasal dari bahasa konjo yang terdiri dari dua suku kata yakni Appa yang berarti "ujung" dan Ralang yang bermakna curam. Maka darisini sudah dapat disimpulkan bahwa penamaan dari Apparalang diambil dari karakteristiknya dimana Apparalang identik dengan tebing-tebing curam.

Tebing Apparalang sangat indah, pemandangan alamnya sangat mempesona. Makanya tak heran jika para pengunjung hadir bukan hanya sekadar menikmati indahnya tebing-tebing curam. Namun lebih pada mengabadikan indahnya pemandangan alam sekitar.

Ada banyak spot foto menarik yang bisa teman-teman temui disini seperti halnya : spot foto di bagian atas, dari sini pengunjung dapat lebih dekat menikmati pemandangan tebing-tebing dikelilingi pagar kayu serta hutan bakau.

Spot foto di bagian bawah, untuk sampai ke tempat ini pengunjung harus melewati anak tangga dengan sudut yang sangat tajam. Ketinggian anak tangga mencapai tujuh meter untuk menuju dermaga kayu.

Dari dermaga kayu, pengunjung dapat melihat laut bergradasi biru dan jernih dari dekat, sudut pemandangan lainnya adalah jembatan-jembatan kayu yang menghubungkan dengan beberapa batu karang. Untuk wisatawan yang bernyali tinggi, di kawasan ini mereka dapat berenang dengan terlebih dahulu meloncat dari atas batu karang.

Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati ombak dan semilir angin sambil membuka bekal untuk dimakan dengan keluarga.

Untuk sampai ke Tebing Apparalang di butuhkan waktu sekitar 7 - 8 jam dari kota Makassar melewati kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng. 

Setelah sampai di kota Bulukumba, teman-teman harus kembali melanjutkan perjalanan sekitar 2 jam untuk sampai di Tebing Apparalang. Estimasi biaya yang perlu teman-teman siapkan berkisar 250 ribu untuk sampai jika memulai perjalanan dari Makassar. 

Itusaya.com/Suku Tobelo atau sering disebut pula suku Togutil adalah salah satu suku yang berasal dari pedalaman Maluku Utara. Suku ini hidup secara nomaden di hutan-hutan di sekitar Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.

Suku Tobelo terbagi menjadi dua yakni suku Tobelo dalam dan suku Tobelo luar. Kehidupan suku Tobelo luar sudah mulai terkontaminasi dengan kehidupan modern sehingga aturan adat dan budaya tak lagi di pakai.

Berbeda halnya dengan suku Tobelo dalam yang hidupnya masih sangat tradisional dan primitif yang tinggal di dalam hutan.

Suku Tobelo dalam mendiami 20 blok lokasi di Aketajawe dan dua blok lokasi di Lolobata. Suku ini cenderung sulit di temukan di luar dari wilayah ini. Suku ini menggunakan bahasa Tobelo. 

Suku Tobelo dalam memenuhi kebutuhan hidup dengan berburu, meramu, dan berladang sederhana. Buruan utama adalah babi dan rusa juga ikan di sungai. Perkebunan terutama pisang, pepaya, ketela, ubi jalar, dan tebu.

Selain itu, mereka juga mengumpulkan telur megapoda, damar, dan tanduk rusa untuk dijual pada orang pesisir. Sehingga dapat dikatakan mereka bukan suku terasing karena masih ada interaksi dengan dunia luar.

Suku Tobelo Dalam yang hidup aman dan tenteram di desa juga ikut andil menjaga kelestarian hutan dengan pola hidup sederhana yang dilakukan. Mereka juga hidup nomaden atau berpindah-pindah.

Tempat tinggal mereka terbuat dari kayu dan bambu. Umumnya, tidak terdapat dinding pada rumah mereka. Sedangkan, lantai terbuat dari papan dengan atap dari daun palem.

Suku Tobelo dalam menitikberatkan hidupnya pada hutan dan menjadikan hutan sebagai rumah bagi mereka. Bagi mereka alam sumber kehidupan yang sangat perlu untuk di jaga.

Dalam fase kematian, juga terbilang unik serta tidak dapat lepas dari alam sekitar  karena mereka menempatkan jasad di pohon yang berada di area khusus. Suku ini memiliki kepercayaan bahwa pohon seperti manusia yang memiliki jiwa dan perasaan. 

Itusaya.com/Suku Korowai merupakan salah satu suku terasing yang hidup di pedalaman hutan Papua. tepatnya di wilayah Kabupaten Merauke, Asmat, Mappi, dan Boven Digoel.

Kehidupan suku ini masih sangat primitif dengan hidupnya yang nomaden dan mengikuti adat Anim-Ha yang menitikberatkan semua kebutuhan kehidupannya lewat alam.

Suku ini bertahan hidup dengan cara meramu. Kehidupan sehari-harinya dihabiskan untuk meramu di wilayah Sungai Dairom Kabur dan Sirek

Suku Korowai menggunakan bahasa jenis phylum sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa ini termasuk rumpun dari bahasa Ndumut.

Ketika hendak menikah, mereka menggunakan maskawin dari tali gigi anjing dan babi serta tali bono dengan jumlah ditentukan oleh keluarga perempuan.

Panjang tali tersebut mencapai 1-2 meter yang membutuhkan sekitar 20-30 ekor anjing untuk diambil gigi taringnya. 

Selain tidak tersentuh oleh modernitas zaman, suku ini memiliki keunikan lainnya, yaitu tinggal di rumah pohon. suku Korowai membangun rumah-rumah mereka di atas ketinggian 8 hingga 15 meter. Bahkan, ada juga rumah yang dibangun hingga 45 meter di atas pohon yang tinggi.

Suku Korowai biasanya menggunakan pohon beringin sebagai tiang penyangga rumah. Sementara itu, struktur rumah dibangun dengan ranting pohon, rotan, dan kulit pohon sagu. Rumah ini dibangun tanpa paku, hanya mengikat struktur tersebut dengan tali rotan yang mereka buat sendiri.

Rumah pohon ini biasanya dapat bertahan selama tiga hingga lima tahun. Pembangunannya dilakukan oleh para pria suku Korowai dan memakan waktu sekitar tiga hari. Untuk keamanan, rumah ini dilengkapi dengan pembatas kayu. Untuk masuk ke rumah, suku Korowai menggunakan tangga gantung yang memanjang dari atas pohon.

Suku Korowai meyakini bahwa wujud iblis tersebut menyerupai mayat hidup yang berkeliaran pada malam hari untuk mencari keluarga mereka.

Namun, lebih dari itu, rumah pohon tersebut dapat melindungi suku Korowai dari serangga dan binatang buas. Selain itu, rumah pohon yang tinggi ini dapat membuat suku Korowai merasa jauh lebih aman dari serangan musuh.

Rumah pohon suku Korowai tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga simbol hubungan sosial di antara mereka. Struktur rumah ini mencerminkan hubungan antaranggota keluarga. Sebuah rumah seringkali tidak hanya ditempati oleh pasangan suami-istri dan anak-anak mereka, tetapi juga oleh saudara mereka beserta keluarga.

Dalam kehidupan sehari-hari, rumah menjadi tempat berlindung dari angin dan hujan. Namun, rumah juga menjadi tempat yang menciptakan kualitas hubungan sosial yang istimewa antara anggota komunitas Korowai.

Terdapat dua golongan masyarakat Suku Korowai, yaitu masyarakat zaman batu dan zaman besi.

Masyarakat zaman batu adalah masyarakat primitif yang masih menggunakan peralatan batu untuk bertahan hidup mulai dari mencari makanan hingga memasak makanan.

Berbeda dengan masyarakat zaman besi yang menggunakan alat-alat dari besi seperti parang, pisau besi, hingga kapak untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Suku Korowai sangat menghargai batas wilayah setiap suku. Jadi, meskipun hidupnya selalu berpindah tempat, mereka tidak akan melewati batasan wilayahnya.

Mereka adalah masyarakat yang sangat menghargai hak orang lain dan paham aturan adat.

Misalnya ketika sedang berburu dan hewan buruannya mati di tanah suku lain. Masyarakat Korowai akan mengambilnya dengan meminta izin terlebih dahulu.

Itusaya.com/Suku Kombai adalah salah satu suku asli Papua yang mendiami wilayah Citak, kabupaten Mitak Provinsi Papua Selatan yang terletak di perbatasan antara kabupaten Yohikimo, Jayawijaya dan kabupaten Boven Digoel.

Suku ini disebut sebagai suku terakhir dari zaman batu yang masih ada di dunia. Mereka merupakan salah satu suku terasing di Indonesia yang masih mempertahankan tradisi lisan dan budaya mereka yang sangat kental.

Suku kombai masih menggunakan bahasa Papua yang berasal dari Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan dengan dialek Tayan.

Soal keyakinan, suku ini masih menyembah ilah-ilah serta ritual-ritual Agamawi yang bersifat tradisional. Hal ini di sebut paham kargoisme yang merupakan salah satu bentuk kesepakatan.

Untuk tempat tinggal, Suku Kombai membangun rumah mereka pada pohon dengan ketinggian 10 hingga 30 meter yang terbuat dari kayu, rotan, bilah bambu, dan kulit kayu dan dibutuhkan tangga lurus yang terbuat dari sebatang kayu untuk dapat mencapai rumah.

Selain hal diatas, suku kombai juga memiliki pembagian tugas antara kaum laki-laki/pria dan wanita/perempuan. Kaum pria bertugas menebang pohon dan pergi ke hutan untuk berburu, mulai dari kus-kus, babi hutan hingga burung kasuari.

Sementara itu kaum wanita dari suku ini bertugas mengasuh anak dan mencari sagu. Ciri khas dari kaum wanita suku Kombai adalah mereka biasa memakai rok pendek yang bahannya didapatkan dari kayu dan serat sagu.

Suku ini memiliki banyak keunikan seperti halnya bentuk aksesoris yang di kenakan bagi laki-laki, dan sangat berbeda dengan dengan perempuan. Bukan hanya itu, setiap aksesoris yang menempel pada dirinya semuanya berasal dari alam.

Aksesoris laki-laki

Mahkota  kepala jenis pertama (fi rafhuo), terbuat dari kulit kus-kus pohon dan kulit kerang cowries dan rakhi, serta manik-manik rambut. Hiasan tersebut diikat di atas alis atau testa.

Mahkota kepala jenis kedua (mimina), terbuat dari tali rotan, pucuk daun sagu, dan manik-manik rumput (wame) yang digunakan sebagai top.

Hiasan hidung (yani), terbuat dari batu dan kulit kerang. Batu yang diasah seukuran hidung dan kerang yang dipotong ukuran sedang, dipasang di tengah-tengah antara lubang hidung

Hiasan lengan tangan (rafe), terbuat dari kulit pohon nibung. Kulit nibung dianyam bulat seukuran tangan.

Kalung (wuhu), terbuat dari gigi babi (aimba) dan kulit pohon melinjo (li). Gigi babi diikat pada anyaman tali pintalan melinjo dan digunakan pada leher.

Hiasan badan (ranggaleho), terbuat dari gigi anjing (manggi) dan kulit pohon melinjo (li). Gigi anjing diikat pada pintalan kulit melinjo. Hiasan ini disilang pada bagian badan.

Koteka (umo), terbuat dari moncong burung taong-taong (riambo) dan kulit labu. Hiasan ini dipakai pada alat kelamin lelaki.

Gelang kaki (dofi), terbuat dari kulit pohon nibung. Kulit nibung dianyam bulat seukuran pergelangan kaki.

Aksesoris perempuan

Mahkota kepala 1 (amyamoho), terbuat dari manik-manik rumput. Hiasan ini diikat di atas alis atau testa.

Mahkota kepala jenis kedua (amyamoho), terbuat dari pucuk pohon sagu. Hiasan ini dianyam dan diikat di atas kepala.

Hiasan hidung (yani), terbuat dari batu. Batu yang diasah seukuran hidung dipasang di tengah-tengah antara lubang hidung.

Hiasan lengan tangan (rafe), terbuat dari kulit pohon nibung hutan. Kulit nibung dianyam bulat seukuran tangan.

Kalung (aerali), terbuat dari gigi babi dan kulit pohon melinjo. Gigi babi diikat pada anyaman tali pintalan melinjo dan digunakan pada bagian leher.

Hiasan badan (ranggaleho), terbuat dari gigi anjing dan kulit pohon melinjo. Gigi anjing diikat pada pintalan kulit melinjo. Hiasan ini disilang pada bagian badan.

Rumbai-rumbai atau rok (fiyo), terbuat dari pucuk daun sagu Hiasan ini dipintal dan dibuat berbentuk rok rumbai-rumbai.

Bra atau pakian dalam (ranggali), terbuat dari kulit pohon melinjo. Kulit pohon melinjo dipintal dan dianyam berbentuk pakaian dalam.


https://kumparan.com
https://id.m.wikipedia.org

Itusaya.com/Sulawesi Barat memang tak ada duanya, berbagai hal menarik bisa ditemukan disini. Bukan hanya kaya akan keberagaman adat dan budaya yang dimiliki namun provisi yang terletak dibagian barat pulau Sulawesi ini pun menyimpan berbagai keunikan.

Pernah dengar pulau yang dihuni oleh ratusan kucing ? pulau ini ada disini loh, namanya Pulau Dea-Dea yang terletak di Polewali Mandar.

Untuk menjangkau pulau ini diperlukan waktu sekitar 15 menit dari dermaga penyeberangan Belang-belang di Desa Tonyamang dengan menggunakan perahu yang akrab disebut warga setempat dengan sebutan Taxi Air.

Pulau ini tak berpenghuni manusia seperti pulau-pulau pada umumnya. Pulau ini hanya dihuni oleh ratusan kucing berbagai jenis. Itulah sebabnya pulau ini disebut sebagai pulau kucing. Anehnya, meskipun tidak dipelihara baik oleh masyarakat ataupun pemerintah, namun kuncing-kucing ini terus bertambah dan berkembang secara alami.

Konon katanya, pulau ini semula hanya di huni oleh beberapa ekor kucing yang diasingkan oleh warga. Namun entah mengapa dalam waktu yang begitu singkat jumlah kucing di pulau ini terus bertambah hingga seakan tak terkendali.

Pulau Kucing(GoWest.id)

Meskipun Pulau ini hanya di huni oleh ratusan kucing namun jangan salah loh Pulau ini pun menyimpan banyak pesona yang akan membuat teman-teman terdecak kagum.

Suasananya nyaman, pantainya yang bersih, alamnya yang asri dan udaranya yang sejuk, akan menjadi suguhan pelengkap jika berada di pulau ini. Sekaligus mungkin hal ini pula yang menjadi penyebab sehingga kucing-kucing ini bisa bertahan dan berkembangbiak. 

Pasti penasaran kan untuk berkunjung ke Pulau ini ?

Namun saya sarankan jika berkunjung ke pulau ini, ada baiknya menyediakan payung atau jas hujan agar jika cuaca tidak mendukung bisa menjadi alat berteduh karena di pulau ini masih sangat alami dan tak berpenghuni sehingga tidak tersedia fasilitas-fasilitas pendukung.

Credit foto by Kucinglucunet

Itusaya.com/Suku Tengger adalah suku yang berasal dari penduduk asli dataran tinggi yang tinggal di sekitar pegunungan Tengger, Bromo, dan Semeru yang terletak di Jawa Timur. Hal inilah yang membuat suku ini sering di panggil wong Brama, orang Bromo, atau wong Tengger.

Suku ini tidak hanya tinggal di lereng pegunungan, namun banyak juga tersebar di beberapa daerah di sekitarnya seperti Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Malang.

Istilah Tengger berasal dari bahasa Jawa yang artinya tegak, diam tanpa bergerak yang apabila dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat, tengger juga bisa berasal dari singkatan tengering budi luhur.

Masyarakat setempat percaya jika nenek moyang Suku Tengger berasal dari Majapahit. Berkaitan dengan masa kerajaan Hindu di Pulau Jawa, di mana pegunungan Tengger diakui sebagai tempat suci yang dihuni abdi spiritual dari Sang Hyang Widi Wasa yang disebut juga sebagai hulun.

Agama dan Keyakinan Suku Tengger

Suku Tengger memeluk ajaran Hindu Dharma yang memiliki tradisi Yadnya Kasada atau upacara Kasada sebutan hari raya bagi masyarakat Tengger yang memeluk ajaran Hindu Dharma.

Yadnya Kasada dilakukan pada pada hari ke-14 bulan Kasada dengan menggelar sesembahan berupa sesaji kepada Sang Hyang Widhi, sebagai manifestasi dari Batara Brahma. 

Pelaksanaan Upacara Kasada dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu puja Purkawa, Manggala upacara, Ngulat umat, Tri Sandiya, Muspa, Pembagian Bija, Diksa Widhi, dan penyerahan sesaji di kawah Bromo. 

Proses upacara dimulai pada Sadya Kala Puja dan berakhir pada Surya Puja. Masyarakat Tengger beramai-ramai menuju Gunung Bromo untuk mengantarkan sesaji berupa hasil ternak dan pertanian ke Pura Luhur Poten Agung. Selama pelaksanaan, Rama Dukun Pandita akan membaca Japa Mantera, yang isinya mendoakan keselamatan seluruh alam semesta.

Selain Yadnya Kasada, masih ada lagi tradisi dari Suku Tengger. Yakni Entas-entas. Tradisi ini merupakan upacara kematian.

Entas-entas sendiri diartikan gambaran dari meluruhkan atau mengangkat derajat leluhur yang telah meninggal agar mendapatkan tempat yang lebih baik di alam arwah.

Bagi suku Tengger, pelaksanaan upacara Entas-entas secara khusus yaitu untuk menyucikan roh atau atma bagi orang yang sudah meninggal dunia. Atau sebagai upaya untuk memperingati kematian keluarga yang sudah tiada agar arwahnya bisa mendapatkan tempat yang lebih baik.

Ritual adat ini, dilaksanakan pada hari yang ke-1000 atau minimal pada hari ke-44 setelah keluarga meninggal. Istilah Entas-entas berasal dari bahasa Jawa, yaitu entas yang berarti mengangkat.

Di dalam tradisi ini, terdapat beberapa rangkaian urutan di dalamnya, yakni ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, dan bawahan.

Untuk melakukan upacara ini, berbagai keperluan dipersiapkan, di antaranya adalah kain putih, bebek, cepel, cobek, beras, kulak (wadah bambu). Selain itu, juga menyediakan sebuah boneka yang diberi nama Petra, sebagai tempat kembalinya roh atau atma.

Adapun pembuatan boneka itu menggunakan bahan dedaunan dan bunga, kemudian nantinya akan disucikan oleh pemuka adat

Tradisi Sarung Suku Tengger
Salah satu ciri khas yang unik dari Suku Tengger adalah penggunaan sarung, baik pria maupun wanita. Namun, sarung bagi Suku Tengger bukan sekadar kain penutup tubuh dari suhu dingin tetapi memiliki makna dan simbol yang mendalam. Bahkan pemakaian sarung ini telah menjelma menjadi identitas mereka.

Penggunaan sarung ini berlaku untuk semua, baik laki-laki maupun perempuan, tua dan muda. Meski suhu sangat dingin yang kadang mencapai 5 derajat celsius pada malam hari, alasan penggunaan sarung ternyata tidak hanya terbatas pada cuaca dingin.

Penggunaan sarung pada suku Tengger juga memiliki nilai dan makna tersendiri tergantung pada siapa yang memakainya. Untuk laki-laki, sarung merupakan atribut formalitas sehari-hari atau sebagai perlengkapan saat bekerja. 

Sementara bagi perempuan, sarung berfungsi untuk menunjukkan status sosial tertentu. Sarung yang mereka pakai mencerminkan posisi mereka dalam bermasyarakat. 

Terdapat empat jenis simpul sarung bagi perempuan suku Tengger.

Perempuan Tengger mengikat sarung di pundak kanan

Perempuan Tengger yang mengikat sarung di pundak kanan menunjukkan bahwa dia sudah dewasa dan siap menikah. Melalui penempatan simpul di pundak kanan ini, dipercaya perempuan tersebut akan memiliki kemampuan untuk memilih suami terbaik dengan penuh tanggung jawab.

Perempuan Tengger yang mengikat sarung di dada

Simpul yang terletak di dada mengindikasikan bahwa perempuan Tengger tersebut sudah menikah.

Perempuan Tengger yang mengikat sarung di leher belakang

Simpul di leher belakang menandakan bahwa perempuan tersebut sedang hamil. Ujung sarung yang menjuntai di depan ditujukan untuk melindungi kehamilannya.

Perempuan Tengger yang mengikat sarung di pundak kiri

Perempuan Tengger yang mengikat sarung di pundak kiri menandakan bahwa dia sudah tidak memiliki suami, yang berarti dia telah bercerai atau merupakan seorang janda.

Selain menunjukkan identitas mereka, masyarakat Tengger di Desa Ngadas juga memiliki sejumlah cara menggunakan sarung berdasarkan peruntukannya. 

Kakawung

Untuk bekerja, mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua, kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. Cara ini disebut kakawung, yang memungkinkan mereka bebas bergerak saat mengambil air atau pergi ke pasar. Cara bersarung ini tidak boleh digunakan saat bertamu atau melayat.

Sesembong

Untuk pekerjaan yang lebih berat, seperti bekerja di ladang atau tugas lain yang memerlukan tenaga besar, mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. Sarung dililitkan di pinggang lalu diikatkan di dada seperti dodot agar tidak mudah lepas.

Sempetan

Saat bertamu, mereka mengenakan sarung sebagaimana umumnya, yaitu ujung sarung dilipat sampai ke garis pinggang. Cara ini disebut sempetan.

Kekemul

Saat santai dan berjalan-jalan, mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Setelah disarungkan pada tubuh, bagian atas dilipat untuk menutupi kedua tangan, kemudian digantungkan di pundak.

Agar terlihat rapi saat bepergian, mereka menggunakan cara sengkletan, yaitu kain sarung cukup disampirkan di pundak atau digantung menyilang di dada.

Kekodong

Cara lain yang khas, sering dijumpai saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat upacara atau keramaian malam hari adalah kekodong.

Dengan ikatan di bagian belakang kepala, kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh kepala, hanya menyisakan mata yang terlihat.

Sampiran

Anak-anak muda Tengger memiliki cara bersarung tersendiri yang disebut sampiran. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung, kedua lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangan.

Itusaya.com/Suku Baduy merupakan suku etnis Sunda yang bermukim di pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak provinsi Banten.

Suku Baduy percaya, mereka keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang di utus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. 

Menurut kepercayaan mereka, warga Kanekes mempunyai tugas untuk menjaga harmoni dunia. Kepercayaan ini disebut juga dengan Sunda Wiwitan. Kepercayaan yang memuja nenek moyang sebagai bentuk penghormatan.

Penamaan Suku Baduy

Sebutan Baduy awalnya adalah pemberian dari peneliti Belanda yang melihat kemiripan masyarakat di sini dengan masyarakat Badawi atau Bedoin di Arab.

Versi lain menyebutkan, jika nama dari Baduy di adopsi dari nama Sungai Cibaduy yang terletak di bagian utara Desa Kanekes.

Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam

Suku ini terbagi dalam dua golongan yaitu: Baduy Dalam dan Baduy Luar. Meskipun sama tetapi keduanya dibedakan oleh aturan adat. Baduy Dalam masih memegang teguh adat dan menjalankan aturan adat dengan sangat baik. 

Namun, Baduy Luar sudah tidak menjalankan aturan adat yang kental, suku ini sudah terkontaminasi dengan budaya luar. Seperti, di bolehkannya penggunaan barang modern diantaranya barang-barang elektronik dan sabun. Selain itu, Baduy Luar juga sudah di bolehkan menerima tamu hingga diperbolehkan mengunjungi dan menginap.

Perbedaan lainnya terlihat dari pakaian yang dikenakan. Pakaian adat atau baju dalam keseharian Baduy Dalam tersirat dalam balutan warna putih yang mendominasi, kadang hanya bagian celananya saja berwarna hitam ataupun biru tua. 

Mereka sangat percaya bahwa warna putih melambangkan kesucian dan budaya yang tidak terpengaruh dari luar. Beda dengan Baduy Luar yang menggunakan baju serba hitam atau biru tua saat melakukan aktivitas.

Suku Baduy Dalam hanya tersebar di tiga kampung yakni Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Sedangkan kelompok masyarakat Baduy Luar tinggal di 50 kampung lainnya yang tersebar di bukit-bukit Gunung Kendeng.

Mata Pencaharian Suku Baduy

Suku Baduy di pimpin oleh ketua adat yang disebut Pu'un dan dibantu oleh seorang wakil yang disebut Jaro, mereka bertugas mengakomodir kebutuhan dasar yang diperlukan semua masyarakat Suku Baduy.

Mata pencaharian mayarakat Suku Baduy umumnya berladang dan bertani. Alamnya yang subur dan berlimpah mempermudah suku ini dalam menghasilkan kebutuhan sehari-hari. Hasil berupa kopi, padi, dan umbi-umbian menjadi komoditas yang paling sering ditanam oleh masyarakat Baduy.

Namun dalam praktek berladang dan bertani, Suku Baduy tidak menggunakan kerbau atau sapi dalam mengolah lahan mereka. Hewan berkaki empat selain anjing sangat dilarang masuk ke Desa Kanekes demi menjaga kelestarian alam.

Rumah Suku Baduy

Proses pelestarian alam juga berlaku saat membangun rumah mereka yang terbuat dari kayu dan bambu. Hal ini juga terlihat dari kontur tanah yang masih miring dan tidak digali demi menjaga alam yang sudah memberi mereka kehidupan. 

Rumah-rumah di sini dibangun dengan batu kali sebagai dasar fondasi, karena itulah tiang-tiang penyangga rumah terlihat tidak sama tinggi dengan tiang lainnya.

Rumah adat Baduy terbagi dalam 3 ruangan dengan fungsi masing-masing berbeda. Bagian depan difungsikan sebagai tempat menerima tamu dan tempat menenun untuk kaum perempuan. 

Bagian tengah berfungsi untuk ruang keluarga dan ruang tidur, serta ruangan ketiga yang terletak di bagian belakang digunakan untuk memasak dan tempat untuk menyimpan hasil ladang. 

Semua ruangan dilapisi dengan lantai yang terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan pada bagian atap rumah terbuat dari serat ijuk atau daun pohon kelapa. 

Rumah suku Baduy dibangun saling berhadap-hadapan dan selalu menghadap utara atau selatan. Faktor sinar matahari yang menyinari dan masuk ke dalam ruangan menjadi alasan mengapa rumah di sini dibangun hanya menghadap dua arah itu saja.

Aktifitas Menenun

Layaknya kebanyakan suku di nusantara, Suku Baduy juga mengenal budaya menenun yang telah diturunkan nenek moyang mereka. Menenun hanya dilakukan oleh kaum perempuan yang sudah diajarkan sejak usia dini. 

Ada mitos yang berlaku bila pihak laki-laki tersentuh alat menenun yang terbuat dari kayu ini maka laki-laki tersebut akan berubah perilakunya menyerupai tingkah laku perempuan.

Tradisi menenun ini menghasilkan kain tenun yang digunakan dalam pakaian adat Suku Baduy. Kain ini bertekstur lembut untuk pakaian namun ada juga yang bertekstur kasar. Kain yang agak kasar biasanya digunakan masyarakat Baduy untuk ikat kepala dan ikat pinggang.

Selain digunakan dalam keseharian, kain ini juga diperjualbelikan untuk wisatawan yang datang berkunjung. Tidak hanya kain, ada juga kain dari kulit kayu pohon terep yang menjadi ciri khas dari Suku Baduy dalam urusan benda seni. 

Tas yang bernama koja atau jarog ini digunakan Suku Baduy untuk menyimpan segala macam kebutuhan yang diperlukan pada saat beraktivitas atau perjalanan.

Prosesi Pemakaman Suku Baduy

Masyarakat Suku Baduy menyebut peristiwa kematian sebagai Kaparupuhan yang memiliki arti kehilangan.

Masyarakat Baduy dalam dan luar memiliki perbedaan dalam melaksanakan upacara kematian. Masyarakat Baduy dalam akan melaksanakan ritual kematian selama 40 hari, sedangkan Baduy luar selama 7 hari.

Ketika mendengar kabar duka dari kerabat maupun warga terdekat, masyarakat Baduy akan berdatangan menuju rumah duka dengan membawa sembako atau makanan.

Mereka juga akan membantu proses pemakaman di rumah duka, mulai dari mengurus jenazah hingga proses penguburan.

Proses mengurus jenazah dilakukan oleh masyarakat sekitar di dalam rumah duka. Dimana pihak laki-laki akan berperan dalam proses penggalian kubur serta membuat keranda dengan menggunakan bambu.

Sementara itu, pihak perempuan akan bertugas memasak hidangan serta menyiapkan keperluan lain untuk penguburan.

Pengurus jenazah juga akan dibedakan tergantung dengan jenis kelamin jenazah, jika jenazah tersebut wanita maka ia akan diurus oleh penghulu bikang. Sedangkan, jika jenazahnya laki-laki akan diurus oleh penghulu jalu.

Pada hari pertama, masyarakat Suku Baduy akan menyiapkan perlengkapan prosesi penguburan, seperti dua buah pasarad (keranda), tempat dan peralatan mandi, boeh (kain kafan) atau tenun serta sesaji berisi menyan dan makanan.

Orang yang sudah meninggal akan dibawa dengan keranda yang sudah dibuat dan dimandikan oleh ketua adat (penghulu).

Dalam memandikan jenazah, masyarakat Suku Baduy memanfaatkan daun sebagai pengganti sabun dan ditempatkan di atas pelepah pisang atau bambu.

Jenazah yang sudah dimandikan juga akan dibungkus dengan selambar boeh (kain kafan) atau kain tenun yang sudah disiapkan, lalu dipindahkan ke sebuah peti baru dengan kain tenun yang dilapisi oleh kain berwarna merah atau biru.

Jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka menggunakan pasarad menuju pemakaman yang ada di masing-masing kampung.

Semua proses pemakaman akan dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dilarang ikut meskipun orang meninggal tersebut adalah keluarganya.

Makam Suku Baduy terpisah dari pemukiman yang terletak di sebelah barat laut dan dipisahkan oleh aliran sungai sebagai simbol pemisah dunia yang berbeda.

Proses pemakaman akan dipimpin oleh Jaro Tangtu dan salah satu perwakilan keluarga sebagai Ceurik Panglayuan.

Jenazah kemudian akan diletakkan di liang lahat dengan menghadap ke selatan yang merupakan arah Sasaka Domas dan kepala menghadap barat yang merupakan arah Sasaka Pada Agung atau tempat suci masyarakat Baduy.

Setelah dimakamkan, akan dilanjutkan dengan berdoa agar jiwa dari orang yang sudah meninggal cepat sampai di Mandala Hiyang atau tempat suci.

Keranda atau pasarad yang digunakan untuk membawa jenazah juga akan dipotong dan makam juga akan ditanam pohon Hanjuang.

Setelah upacara pemakaman selesai, masyarakat Suku Baduy akan melanjutkan rangkaian acara ritual upacara kematian ini hingga 7 hari bagi Baduy luar dan 40 hari untuk Baduy dalam.

Warga sekitar akan berkumpul selama tiga malam di rumah duka, keluarga duka juga dilarang untuk bepergian ke luar rumah selama tujuh hari.

Pada hari ketiga, keluarga yang ditinggal akan menumbuk padi untuk digunakan sebagai jamuan dalam rangkaian upacara kematian.

Mereka juga memberikan sesaji berisi makanan-makanan khas Suku Baduy, sedangkan pada hari ketujuh masyarakat Suku Baduy membuat tumpeng sebagai tanda berakhirnya kehidupan orang yang meninggal dunia.

Masyarakat Baduy tidak memiliki kebiasaan untuk menjaga makam, mereka juga memiliki keyakinan bahwa pada hari ketujuh makam orang yang meninggal dapat digunakan sebagai ladang atau kebun.

itusaya.com/Suku Kajang adalah suku yang mendiami salah satu wilayah yang terletak di kabupaten Bulukumba. Suku ini juga di kenal dengan suku hitam atau Ammatoa yang masih memegang teguh adat dan tradisi dalam mengelola dan melestarikan lingkungan mereka. Sehingga sampai saat ini kelestarian lingkungan serta kondisi alamnya masih sangat terjaga.

Uniknya karena suku Kajang memiliki suatu pranata budaya bernama "pasang ri kajang" yang bisa diartikan sebagai pesan, hukum, atau pengetahuan yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. "pasang" merupakan pedoman tetinggi dalam kehidupan yang tidak boleh di langgar oleh siapapun.

Bagi suku ini, alam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka sehingga harus dikelola dan di jaga dengan baik. “Anjo boronga anre nakulle nipanraki. Punna nipanraki boronga, nupanrakki kalennu”, yang berarti “Hutan tidak boleh dirusak. Bila engkau merusaknya, sama halnya engkau merusak dirimu sendiri.” 

Ini adalah salah satu contoh "pasang" atau pesan yang harus di junjung tinggi agar ekosistem hutan tetap terjaga. Menurut keyakinan Suku Kajang, hutan memiliki fungsi ritual dan ekologis. Sehingga keberadaannya sangatlah penting bagi kehidupan mereka.

Mereka meyakini bahwa hutan adalah tempat sakral karena dari sinilah bumi pertama kali dibuat, sehingga menjadi tempat untuk melakukan berbagai upacara adat. 

Selain itu, mereka juga meyakini bahwa hutan merupakan sumber hujan dan sumber air dalam bahasa kajang di istikahkan (tumbusu’). 

Hal inilah yang semakin mengeratkan kepercayaan mereka akan pentingnya keberadaan hutan sehingga dibuatlah beberapa aturan tentang larangan menebang pohon, berburu satwa, merusak rumah lebah, bahkan mencabut rumput. 

Masyarakat Suku Kajang juga hidup dalam sebuah filosofi bernama Kamase-masea, yaitu cara hidup tradisional dan bersahaja.

Filosofi ini mengajarkan untuk hidup sederhana dan secukupnya sehingga pengelolaan sumber daya alam di hutan dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekologisnya. 

Hal inilah yang membuat kawasan hutan mereka sehingga dibagi menjadi tiga bagian yaitu:

Hutan keramat (Borong Karamaka),

Kawasan hutan yang terlarang untuk semua jenis kegiatan kecuali kegiatan adat atau upacara ritual. Tidak boleh ada penebangan, pengukuran luas tanah, atau kegiatan lain yang mengganggu flora dan fauna di kawasan ini. 

Orang yang melanggar akan dikenai denda dan harus mengembalikan kayu yang diambil ke hutan. 

Hutan perbatasan (Borong Batasayya),

Hutan yang diperbolehkan untuk diambil kayunya dengan izin Ammatoa sepanjang persediaan masih ada. Kayu yang bisa diambil hanya beberapa jenis saja dan digunakan untuk tujuan khusus, seperti membangun sarana umum atau rumah bagi warga yang tidak mampu.

Pengambilan kayu dari hasil menebang pohon harus disertai dengan penanaman pohon pengganti. 

Hutan rakyat (Borong Luara’), 

Hutan yang bisa di kelola oleh masyarakat suku kajang namun tetap harus sesuai dengan aturan-aturan adat. 

Itusaya.com/Ada lagi nih pulau yang sangat keren di Pangkep namanya Pulau Samatellu. Pulai ini terletak Desa Mattiro Walie, Kec. Liukang Tupabbiring, Kab. Pangkep, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pulau ini masuk dalam kawasan spermonde yang tersusun oleh material sedimen karbonat yang sudah berumur.

Jika diperhatiakan pulau ini berbentuk lingkaran yang di sekelilingnya di hiasi dengan pemandangan laut lepas. Untuk bisa sampai ke pulau ini dibutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Bandara Sultan Hasanuddin menuju dermaga Maccini Bajik di Kec. Labakkang. Kemudian melanjutkan 1 jam perjalanan menggunakan perahu nelayan sewa menuju pulau. Uniknya, jalur yang di lalui pun tidak dari bibir pantai namun melalui bentangan sungai Pangkajene dengan menumpangi kapal nelayan atau yang sering pula disebut sebagai taksi laut. 

Tapi ingat, biasanya taksi laut berangkat menuju pulau ini sekitar pukul 10.00 - jam 12.00 siang, diluar dari jam ini kadang sulit untuk menemukan perahu karena pada jam-jam tertentu air laut akan pasang disertai dengan ombak yang semakin besar.

Namun, jangan khawatir meskipun menuju ke pulau ini cukup membutuhkan waktu, tenaga, dan perjalanan yang cukup rumit namun setelah sampai kalian akan di suguhkan keindahan laut yang sangat menawan dan tidak mungkin bisa di temukan di tempat yang lain. ekosistem laut seperti ikan dan terumbu karang menjadi daya tarik utama di pulau ini. Makanya, jangan lupa membawa alat snorklin ataupun alat selam jika berkunjung kesini.

Pulau ini pun bukanlah pulau yang tak berpenghuni sehingga teman-teman jangan takut berada di pulau ini. Menurut beberapa sumber, pulau ini dihuni oleh 22 kepala keluarga yang berasal dari Suku Bugis Makassar. Makanya jumlah rumah yang bermukim di pulau ini pun berkisar 22 rumah. Namun entah sekarang apakah sudah bertambah atau malah berkurang. Makanya jika penasaran, buruan berkunjung ke pulau ini.

Sebelum masuk ke pulau ini, teman-teman akan disuguhkan sebuah pohon besar yang berumur tua, bagian bawah pohon ini dilingkari pagar yang tak jarang dibawah pohon ini ditemukan berbagai sisa-sisa sesajen. Menurut warga sekitar area sekitar pohon ini merupakan jantung dari pulau Samatellu yang diyakini memiliki energi lelulur yang perlu untuk di hormati.

Yah, boleh disebut bahwa pohon ini dikeramatkan tidak hanya oleh warga sekitar namun terkadang pun ditemukan warga dari luar datang bersiarah ke sekitar pohon ini.

Pemandangan alam yang indah berupa pasir putih yang lembut dan menawan menjadi ciri khas dari pulau ini, udara yang sejuk serta lingkungan pantai yang bersih akan menjadi pemikat bagi siapapun yang datang.

Pulau Samatellu Pedda (Geo Park Maros)

Belum lagi ekosistem lautnya yang beragam dan alami menjadikan para wisatawan kerap melakukan aktifitas pantai berupa snorkling dan diving, untuk menyaksikan secara langsung keindahan ekosisitem bawah laut disekitar pulau ini.

Tak hanya itu, salah satu kebiasan unik dari masyarakat sekitar yang sudah menjadi tradisi secara turun temurung yang kerap ditemui di pulau ini yakni dengan melakukan Mandi Safar.Tradisi ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menolak bala sekaligus untuk meningkatkan silaturahmi baik sesama tetangga maupun dengan keluarga lainnya.

Credit foto by https://geoparkmarospangkep.id

Itusaya.com/Ada lagi nih pulau yang sangat keren di Pangkep, Sulawesi Selatan. Namanya, Pulau Langkadea yang seringkali diistilahkan sebagai pulau yang menyimpan pesona surga terletak di desa Mattiro Sompe, Kec. Liukang Tupabbiring,Pangkep.

pulau ini tak berpenghuni yang berada dalam jajaran Spermonde. Bentuk dari pulau ini terbilang sangat unik dengan bentangan yang memanjang dan mengerucut dibagian ujung dengan luas kira-kira 3-4 kali lebih luas dari lapangan sepakbola.

Untuk sampai ke pulau ini, hanya bisa diakses melalui jalur laut dengan menyewa perahu dari pelabuhan Paotere Makassar yang dapat ditempuh berkisar 1 sampai 2 jam. Ada banyak jenis perahu yang tersedia di bibir pelabuhan dan bisa ditemukan di pagi hari namun untuk jam keberangkatan biasanya akan di mulai dari pukul 11.30 siang. Perahu ini milik warga yang memang hanya di peruntukkan sebagai alat transportasi tradisional yang disiapkan untuk menjangkau pulau ini. Namun mimin sarankan jika ingin berkunjung ke pulau ini, baiknya barengan bersama kawan, sahabat, atau keluarga. Tapi ingat jangan hanya berdua dengan pacar atau pasangan yah, soalnya takut jangan sampai ada yang salah paham atau salah pecah. Hehehe. bercanda...

Selain karena pesona alamnya yang menarik, salah satu yang menjadi daya tarik unggul di pulau ini yakni dengan adanya hamparan pasir putih yang lembut, lengkap dengan air lautnya yang biru dan sangat jernih. Perpaduan kedua ini menjadikan pulau ini masuk sebagai kunjungan destinasi terfavorit dan populer di Kab. Pangkep.

Laut dengan air yang jernih ini memiliki kedalaman sekitar 35 meter. Hal ini menjadikan perairan laut yang terdapat di pulau ini termasuk ke dalam perairan laut dangkal. Suhu di pulau ini juga masih termasuk ke dalam suhu normal bagi daerah tropis. Hal ini dikarenakan area perairan di pulau ini dipengaruhi oleh arus lintas perairan Indonesia. Keadaan bawah laut di pulau ini juga menyuguhkan pemandangan yang indah.

https://www.itusaya.com

Pulau Langkadea Pangkep(Menatap Negeri)

Bawah laut dari Pulau ini didominasi oleh terumbu karang. Bahkan di laut ini juga ditemukan 176 jenis hewan yang sangat mempengaruhi proses pembentukan karang. teman-teman juga dapat menemukan keindahan ini di kedalaman sekitar 10 hingga 25 meter.

Namun uniknya, laut yang terdapat pada pulau ini memiliki luas terumbu karang yang mencapai hingga 27.000 Ha. Coba bayangkan begitu luasnya hamparan terumbu karang yang ada disekitar pulau ini.

Tak hanya bisa menikmati indahnya pemandangan alam bawah laut, teman-teman juga dapat menikmati keindahan pulau tersebut dengan mendirikan tenda ataupun memasang sebuah hammock untuk bersantai sambil menikmati angin sejuk yang terbawa oleh ranting pohon.

Saking indah dan menawannya sehingga Pulau ini dijuluki dengan nama “mustika citra langkah island” sebagai sebuah penghormatan karena keindahan alamnya yang tak tertandingi.

Inilah yang tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk segera melakukan snorkeling ke bawah laut atau mungkin ingin menyelam untuk melihat keindahan dari dasar di sekitar pulau ini. Soal fasilitas jangan khawatir karena pulau ini sudah dilengkapi dengan fasilitas mulai dari yang cukup sederhana hingga penginapan yang mewah. Semua sudah tersedia disini.

Konon katanya, pulau ini pernah berpenghuni, dihuni oleh sebuah keluarga yang kemudian berpisah dan ditinggal oleh ana-anaknya karena adanya sengketa setelah ayahnya meninggal. Sedangkan menurut cerita yang lain, pulau ini dahulu adalah milik warga yang kemudian pergi setelah terjadi sengketa politik saat pemilihan bupati.

Namun masalah diatas tidak mengurangi keindahan yang dimiliki pulau ini. Makanya, jika penasaran, buruan kesini biar bisa merasakan indahnya pulau Langkadea.

Credit foto by Itrip


Itusaya.com/Jalan-jalan ke Sulawesi Barat memang tak pernah ada bosannya, banyak spot wisata menarik yang bisa di temukan disini. Salah satunya yakni berkunjung ke pulau Malamber. 
 
Pulau ini terletak di desa Bala-Balakang Timur, Kecamatan Bala-Balakang, Mamuju. Meskipun masuk dalam wilayah Mamuju namun jika di lihat dari peta, pulau ini berada diantara pulau Sulawesi dan Kalimantan.

Nama dari pulau ini berasal dari bahasa suku Mandar yang memiliki arti "panjang". Penamaan dari pulau ini memang sangat cocok dan sesuai dengan karateristik pulaunya yang memanjang.

Untuk sampai ke pulau ini diperlukan waktu sekitar 10 jam menggunakan perahu nelayan. Wah, gimana rasanya yah naik perahu 10 jam dengan kondisi ombak yang besar. Tapi lumayan menarik dan menantang sih untuk di coba.

Pulau ini memang cukup jauh karena berada di bagian terluar Sulbar. Namun meskipun jauh dan sulit untuk di kunjungi namun pulau ini banyak di huni oleh warga lokal.

Namun ada yang unik loh tentang pulau ini karena pulaunya hanya satu namun di lain waktu terkadang bisa menjadi dua bagian. Tapi ini bukan cerita mistis, hanya saja di saat air laut surut maka pulau ini akan terbagi menjadi dua bagian namun setelah pasang akan kembali menyatu. Sehingga masyarakat sekitar sering menyebutnya pulau Malamber besar dan pulau Malamber kecil.

Pulau Malaber (Kumparan)

Namun jangan heran, meskipun jaraknya jauh dan akses sulit untuk sampai ke pulau ini namun semuanya akan hilang seketika setelah sampai ditepi pantai. Keindahan pantai kedua pulau ini sangat menawan dan mempesona dengan pasir putih yang halus dan bersih. 

Selain pantainya yang sangat menawan, pulau ini juga di dominasi oleh tumbuhan cemara, yang membuat suasana semakin nyaman, di tambah lagi dengan hembusan angin sepoi-sepoi.

Tak hanya itu loh, disekitar pantai ini pun bisa dijumpai berbagai jenis biota laut. Bahkan terkadang ikan lumba-lumba pun tidak jarang terlihat seakan bermain di tengah birunya air laut. Kadang pula terlihat berenang hingga ke tepian pantai.

Makanya, saat berada di pulau ini tak elok rasanya jika tidak melakukan aktifitas pantai seperti berenang, menyelam, atau aktifitas lain yang bisa membuat suasana semakin berkesan. 

Makanya buruan ke pulau ini, mumpung hari libur.

Credit foto by Katinting

Itusaya.com

Jalan-jalan ke Sulbar pastinya akan selalu mengasyikkan loh, berbagai destinasi  ada di kota ini. Mulai dari wisata pantai hingga gunung semuanya keren, namun kami lebih merekomendasikan untuk mengunjungi salah satu pantai yang cukup menarik dan populer di kota Mamuju. 

Namanya, Pantai Lombang-Lombang yang terletak di kelurahan Sinyonyoi, Kec. Kalukku. Meskipun letaknya yang berada diluar kota namun pantai ini kerab ramai dikunjungi oleh masyarakat lokal maupun warga dari luar kabupaten.

Untuk sampai ke pantai ini, kami sarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi agar lebih mudah di jangkau namun bisa juga menggunakan jasa kendaraan umum atau angkot karena masih tersedia.

Pantai ini sangat terkenal dengan pemandangan alamnya yang menawan  karena semuanya masih terjaga sehingga wajah aslinya masih nampak sangat alami.

Belum ada rekayasa pembangunan yang dilakukan di pantai ini selain dengan penambahan beberapa fasilitas penunjang wisata seperti toilet dan sejenisnya. 

Tetapi alangkah baiknya jika teman-teman berkunjung di akhir pekan atau di waktu libur karena pantai ini sangat cocok dijadikan tempat untuk melepas lelah setelah disuguhi pekerjaan yang begitu banyak dalam rutinitas sehari-hari.

Selain dapat menikmati keindahan alam sekitar pantai ini, pengunjung pun bisa menyusuri hamparan pasir yang terjuntai disepanjang bibir pantai yang cukup panjang dan luas serta dapat menyaksikan deretan pohon kelapa yang sangat indah.

Inilah yang membuat para pengunjung bebas melakukan akitifitas apapun di pantai ini, seperti bermain pasir, bermain voli pantai atau sepakbola, atau sekedar duduk-duduk santai sambil menikmati tiupan angin sepoi-sepoi karena masih terasa teduh meskipun di siang hari.

Banyak juga yang memilih untuk berenang, karena ombak yang ada di sepinggiran pantai ini terbilang cukup tenang, sehingga sangat cocok untuk melakukan olahraga renang. Jika tidak mahir jangan khawatir karena disini telah disediakan tempat untuk menyewa pelampung lokal alias ban bekas.

Jika ingin beristirahat pun bisa, ditempat ini pun sudah tersedia balai-balai bambu yang berjejer rapi disepanjang bibir pantai.Cukup dengan mengeluarkan budget sebesar Rp.25ribu teman-teman sudah bisa menggunakannya untuk sekedar istirahat.

Apalagi jika berkunjung di sore hari, maka akan lebih baik agar bisa secara langsung melihat terbenamnya mentari sore  kembali keperaduannya.

Credit foto by Wisatakita.com


www.itusaya.com
/Sulawesi Barat memang surga bagi para wisatawan, berbagai ragam destinasi wisata ada disini. Mulai dari pantai hingga puncak gunung semuanya tersedia. Kalau tidak percaya, coba deh luangkan waktu sejenak untuk mengunjungi salah satu destinasi wisata puncak gunung yang sekarang lagi populer.

Namanya Puncak Gunung Buntu Liarra, sebuah detinasi wisata puncak gunung yang menawarkan keindahan alam di dataran tinggi. Destinasi ini terletak Parondobulawan Kec. Tandu Kalua Kab. Mamasa. Untuk sampai ke lokasi spot yang satu ini bisa menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan jasa ojek, namun alangkah baiknya sih jika menggunakan kendaraan pribadi biar nggak repot.

Ada dua jalur yang bisa dilalui untuk sampai kesini. Bisa melalui Desa Talimbung ataupun melalui desa Bella Peu. Terserah dari teman-teman kira-kira mau melalui jalur yang mana, karena kedua jalur tersebut terbilang sama saja. Setelah sampai di desa yang dimaksud, teman-teman kembali harus melakukan trekking menuju puncak Buntu Liarra yang kira-kira membutuhkan waktu sekitar 20 - 30 menit. Bergantung dari seberapa kuat teman-teman bisa menaklukkan tanjakan dari gunung ini.

Puncak ini tidak begitu tinggi teman-teman sehingga jangan khawatir, tidak perlu terlalu banyak persiapan. Cukup dengan membawa bekal termasuk air minum yang lebih banyak. Namun ada baiknya jika saat berkunjung, mending sekalian berkemah agar bisa menyaksikan matahari terbit di puncak gunung ini. Karena keindahan klimaks dari spot puncak Buntu Liarra terletak pada pagi hari disaat matahari pagi terbit dari ufuk timur.

Disini teman-teman akan melihat indahnya biasan cahaya matahari yang masih seakan berselimut awan tebal yang menggumpal, bagaikan kehadiran kita sedang lagi berada diatas awan. Itulah sebab, kenapa Puncak Buntu Liarra juga diistilahkan sebagai negeri diatas awan.

Credit foto by Celebes

www.itusaya.com/Jalan-jalan ke Sulawesi Barat tak akan ada bosannya, suguhan begitu banyak spot-spot wisata yang keren membuat kita begitu betah, apalagi jika menyempatkan diri untuk berkunjung ke Pulau Gusung Toraja.

Pulau yang identik dengan pasir putih ini merupakan pulau yang kosong atau tidak berpenghuni, disamping itu ukurannya pun sangat kecil, kira-kira hanya seukuran luas lapangan sepak bola. Makanya, untuk bisa mengelilingi pulau ini mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit.

Pulau ini terletak di bagian selatan polewali mandar tepatnya di kelurahan Ammasangang, kec. Binuang. Untuk dapat sampai ke pulau ini, teman-teman dapat mengambil jalur penyeberangan dari dermaga Belang-Belang di desa Tonyaman, kec. Binuang, kab. Polewali Mandar. Karena letak dermaga yang berada diluar kota kabupaten maka ada baiknya jika menggunakan kendaraan pribadi, sebab akses untuk kendaraan umum masih sangat terbatas.

Dari dermaga ini teman-teman bisa menggunakan jasa sewa perahu atau yang kerab disebut taksi laut bagi masyarakat lokal. Tak perlu takut menggunakan jasa perahu yang ada disini karena ukurannya lumayan panjang, yah kira-kira sekitar 5- 6 meter dengan daya muat berkisar  8 -10 orang. Perahu ini pun dilengkapi dengan cadik atau "palatto" yang berfungsi sebagai penyeimbang saat perahu sedang mengarung.

www.itusaya.com

Pulau Gusung Toraja(Wartaevent)

Tak hanya Pulau Gusung Toraja, lewat dermaga ini pun teman-teman bisa mengunjungi pulau-pulau lain yang ada disekitar, seperti pulau Batto dan pulau Salamaq. Kedua pulau ini masuk kategori pulau berpenghuni berbeda halnya dengan pulau yang tidak berpenghuni diantaranya, Gusung Toraja, Dea-Dea, Landea, Karamasang, dan Panampeang. Jadi tinggal memilih mau berkunjung ke pulau yang mana.

Hanya saja untuk aktifitas setiap harinya, biasanya taksi laut yang tersedia disini lebih dominan tujuannya menuju pulau Batto dan Salamaq karena taksi laut ini menjadi satu-satunya transportasi laut yang bisa digunakan oleh masyarakat sekitar dari dua pulau ini untuk bolak balik menuju kota kabupaten untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Sementara khusus untuk Pulau Gusung Toraja biasanya hanya akan ramai saat hari libur dan akhir pekan, atau oleh kelompok pemancing yang ingin merasakan sensasi mancing di Gusung Toraja.

Biaya sewa taksi laut untuk sampai ke pulau Gusung Toraja mungkin sedikit lebih mahal dibanding kedua pulau yang berpenghuni karena untuk sampai ke pulau Gusung Toraja masuk dalam kategori tujuan wisata. Berbeda halnya dengan mengunjungi dua pulau berpenghuni karena sudah menjadi alat transportasi warga. Yah, kira-kira sekitar Rp.200ribu - 300ribu.

Pulau Gusung Toraja terbilang pulau yang paling terluar, sehingga butuh waktu sekitar 20-25 menit untuk sampai ke bibir pantai. Melewati pulau Battoa di sisi kanan, pulau Dea-Dea dan pulau Salamaq di sisi kiri. Cukup jauh dari pulau-pulau besar seperti Battoa, Tangnga, dan Karamasang.

Namun uniknya karena pulau ini merupakan satu-satunya pantai bertekstur pasir berwarna putih, karena itulah kemudian masyarakat lokal mengenal nama lain pulau ini sebagai "Pulau Pasir Putih". Jika terdapat gelombang besar dari arah teluk maka Gusung Toraja lah yang pertama kali akan mendapatkan efek.

Gusung Toraja memiliki pesona yang dapat diandalkan sebagai destinasi wisata bahari dengan sajian ragam pilihan yang menarik bagi teman-teman, mulai dari menyusuri bibir pantai berpasir pasir putih, meniti bakau, menyaksikan indahnya terumbu karang leawt aktifitas snorkling, melihat view sunset dan sunrise, lokasi renang, spot untuk mendirikan tenda untuk berkemah, serta berbagai aktifitas menarik lainnya.

Pokoknya berlibur ke pulau ini tak akan pernah ada ruginya, suguhan berbagai keindahan alam yang beragam disertai dengan ombak yang begitu tenang akan menjadi liburan paling mengesankan buat teman-teman. Jangan lupa ajak keluarga biar rame dan menyenangkan.

Credit foto by Tribun Sulbar
Diberdayakan oleh Blogger.